KISAH SEPATU DAN NOVELIS KONDANG (RADAR BANYUMAS 8 AGUSTUS 2021)

 



Sekitar tiga tahun yang lalu penulis ini telah mengisahkan episode sepatu yang malang sesi 1. Mengisahkan sepatu yang dimiliki pegawai bank yang bernama Rendi. Apa penulis ini ingin mengambil objek yang sama, kira-kira dia akan mengambil tokoh siapa ya? Sebelumnya dirinya cukup geram melihat Komisi Pemberantasan Korupsi yang semakin hilang taringnya, sehari yang lalu dia marah besar kepada oknum daerah yang memakan uang rakyat. Tapi bukan semua itu alasan terbesarnya, penulis ini sedang memikirkan ihwal mimpi sepatu yang dialaminya selama seminggu berturut-turut.

 

Penulis ini terus memainkan jemarinya menulis draft cerita pendek, pikirannya terhenti pada miniatur sepatu kayu yang diletakan di atas meja kerjanya. Jarum jam menunjuk angka pukul 14.30, si penulis bergegas keluar rumah dia bermimpi harus menemui seorang guru. Dia menempuh jarak 50 Kilometer ke lokasi rumah pak guru. Seorang guru yang berumur 50 tahunan tinggal di perbatasan ini berperawakan kurus, tinggi, kulit kecolatan, dan memakai peci hitam menyambut si penulis dengan ramah.

 

“Maaf anda, siapa dari mana asalnya?” tanya si guru.

“Saya seorang penulis, saya melihat bayangan sepatu dalam mimpi, selama satu minggu saya bermimpi sama tentang sepasang sepatu. Ada hasrat besar membongkar misteri septu dari mimpi saya itu.”

“Kenapa saya yang anda tuju, saya bingung dengan kehadiran anda dan misi anda yang aneh.”

“Takdir yang mengarahkan kita bertemu, selama saya berjalan mencari ihwal sepatu, saya mendengar suara derap sepatu bapak, saya mencari sumber suara itu ternyata sosok seorang guru yang tengah menuntun sepeda...”

Si penulis tidak meneruskan perkataannya.

Si guru menyela, “Oh iya itu, ban sepeda saya bocor sepulang dari mengajar di sekolah.”

 

Si penulis mengamati raut wajah si guru, dia alihkan pandang ke sepeda tua yang di parkir di depan rumahnya. Terlihat sangat usang, penuh karat dari bentuknya saja sudah bisa diprediksi sepeda itu sudah berumur puluhan tahun. Pandangannya lalu terhenti pada sepasang sepatu yang diletakan di dekat pintu.

“Jadi terus terang saja maksud anda ke sini untuk apa?”

“Saya ingin membeli sepatu itu.” Jawaban singkat si penulis sembari melihat sepasang sepatu.

“Saya harus memiliki sepatu itu, agar tabir mimpi saya terpecahkan.”

“Sepatu itu tidak saya jual.”

“Saya bayar dengan harga tinggi, bulan depan royalti buku saya keluar seluruh royalti selama satu tahun saya bayarkan kepada anda?”

“Anda penulis buku yang populer itu?”

“Iya, anda tidak mengenal saya, rasanya tidak mungkin hampir semua buku pelajaran pegangan guru Bahasa Indonesia mengutip karya saya, di sekolah pak guru mengajar mata pelajaran apa?”

“Saya tidak mengajar mata pelajaran populer.”

“Lha pak guru ngajar di sekolah mana?” Si penulis memandang tajam ke arah si guru.

xxx

Si penulis pulang dengan rasa puas bisa membeli sepatu dari pak guru. Sesampainya di rumah. Dia mencuci bersih, mengelap sepatu itu. Warna kusam sepatu itu luntur, muncul goresan, sayatan benang yang putus dan  lubang sepatu di sisi bawahnya.

“Alangkah kasihannya pak guru itu, sepatu macam ini dia pakai sekolah.”

Si penulis meletakan sepasang sepatu di meja kerjanya. Berharap inspirasi tabir itu akan segera terjawab. Keberadaan sepatu itu bisa membawa keberuntungan untuk garapan novel terbarunya.

 

Waktu berlalu cepat, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Genap sembilan bulan sepuluh hari sepatu itu ada di rumah si penulis, namun selama waktu itu pun si penulis belum menemukan jawaban mimpinya. Setiap malam dia masih diburu mimpi yang sama tentang sepatu. Persediaan depositonya semakin menipis, pasokan logistik kosong. Royalti bukunya dibayarkan untuk membeli sepatu pak guru. Keadaan semakin parah menginjak bulan ke lima belas, penulis tidak mempunyai uang untuk membeli kebutuhan pokok.

Si penulis membuka laptop naskah novel terbarunya stagnan. Dia mengalami witer block padahal sudah melakukan riset, wawancara, observasi untuk pendalaman materi naskahnya. Si penulis berkali-kali ditelepon oleh penerbit, tenggang waktu penggarapan naskah bertema korupsi itu sudah jatuh tempo masa pengerjaan.

“Dasar sepatu sialan!”

Si penulis melempar sepatu itu ke tong sampah.

Xxx

Keesokan paginya, dengan uang hasil menjual jam tangan mahalnya si penulis berniat mengembalikan sepatu itu ke pak guru. Dia berpikir sepatu itu keramat, dengan dikembalikan sepatu itu maka kesialannya akan hilang. Sesampainya di sana, si penulis tidak bertemu dengan pak guru. Istrinya mengatakan pak guru sudah mengajar di sekolah. Si penulis berniat memberikan langsung sepatu itu, tapi hati kecilnya mengatakan lain. Si penulis meminta alamat sekolah pak guru, dia ingin mengembalikan langsung sepatu itu sekaligus meminta ganti rugi tanggung jawab royaltinya. Sepatu yang dibeli dengan harga mahal tidak bisa menjawab tabir mimpinya. Selama lima belas bulan dia hampir mati kelaparan.

 

Demi menuju tempat itu si penulis harus naik angkot, berjalan kaki tiga kilometer menyusuri hutan yang sepi, menyeberangi sungai. Di tepi sungai, sudah banyak orang akan menyeberang ke pulau. Dia paksakan dirinya tetap bersabar melewati medan sulit itu. Dia menyeberang bersama warga lainnya. Penumpang yang banyak membuat perahu oleng hampir tenggelam. Setiap kali dayung digerakkan, diiringi dengan teriakan penumpang lain. Konon, di sungai itu ada beberapa buaya penunggu. Sepanjang perjalanan dia mengutuki sepatu itu, tapi tak ada guna. Dia justru duduk berkomat-kamit agar perahu segera menepi, selamat dari maut.

 

Dua jam perjalanan sampailah perahu ke tepian. Si penulis menanyakan perihal guru itu.

“Tuan guru biasa mengajar di hutan agak masuk ke dalam kalau ketemu pepohonan lahan hangus terbakar di situ ada rumah bambu nah di situ tempatnya, kebetulan saya mau ke sana, saya bawa buku-buku titipannya yang saya beli dari kota.”

 

Komentar