Sekitar tiga tahun
yang lalu penulis ini telah mengisahkan episode sepatu yang malang sesi 1.
Mengisahkan sepatu yang dimiliki pegawai bank yang bernama Rendi. Apa penulis
ini ingin mengambil objek yang sama, kira-kira dia akan mengambil tokoh siapa
ya? Sebelumnya dirinya cukup geram melihat Komisi Pemberantasan Korupsi yang
semakin hilang taringnya, sehari yang lalu dia marah besar kepada oknum daerah
yang memakan uang rakyat. Tapi bukan semua itu alasan terbesarnya, penulis ini
sedang memikirkan ihwal mimpi sepatu yang dialaminya selama seminggu
berturut-turut.
Penulis ini
terus memainkan jemarinya menulis draft cerita pendek, pikirannya
terhenti pada miniatur sepatu kayu yang diletakan di atas meja kerjanya. Jarum
jam menunjuk angka pukul 14.30, si penulis bergegas keluar rumah dia bermimpi
harus menemui seorang guru. Dia menempuh jarak 50 Kilometer ke lokasi rumah pak
guru. Seorang guru yang berumur 50 tahunan tinggal di perbatasan ini
berperawakan kurus, tinggi, kulit kecolatan, dan memakai peci hitam menyambut
si penulis dengan ramah.
“Maaf anda,
siapa dari mana asalnya?” tanya si guru.
“Saya seorang
penulis, saya melihat bayangan sepatu dalam mimpi, selama satu minggu saya
bermimpi sama tentang sepasang sepatu. Ada hasrat besar membongkar misteri
septu dari mimpi saya itu.”
“Kenapa saya
yang anda tuju, saya bingung dengan kehadiran anda dan misi anda yang aneh.”
“Takdir yang
mengarahkan kita bertemu, selama saya berjalan mencari ihwal sepatu, saya
mendengar suara derap sepatu bapak, saya mencari sumber suara itu ternyata
sosok seorang guru yang tengah menuntun sepeda...”
Si penulis
tidak meneruskan perkataannya.
Si guru
menyela, “Oh iya itu, ban sepeda saya bocor sepulang dari mengajar di sekolah.”
Si penulis
mengamati raut wajah si guru, dia alihkan pandang ke sepeda tua yang di parkir
di depan rumahnya. Terlihat sangat usang, penuh karat dari bentuknya saja sudah
bisa diprediksi sepeda itu sudah berumur puluhan tahun. Pandangannya lalu
terhenti pada sepasang sepatu yang diletakan di dekat pintu.
“Jadi terus
terang saja maksud anda ke sini untuk apa?”
“Saya ingin
membeli sepatu itu.” Jawaban singkat si penulis sembari melihat sepasang
sepatu.
“Saya harus memiliki
sepatu itu, agar tabir mimpi saya terpecahkan.”
“Sepatu itu
tidak saya jual.”
“Saya bayar
dengan harga tinggi, bulan depan royalti buku saya keluar seluruh royalti
selama satu tahun saya bayarkan kepada anda?”
“Anda penulis
buku yang populer itu?”
“Iya, anda
tidak mengenal saya, rasanya tidak mungkin hampir semua buku pelajaran pegangan
guru Bahasa Indonesia mengutip karya saya, di sekolah pak guru mengajar mata
pelajaran apa?”
“Saya tidak
mengajar mata pelajaran populer.”
“Lha pak guru
ngajar di sekolah mana?” Si penulis memandang tajam ke arah si guru.
xxx
Si penulis
pulang dengan rasa puas bisa membeli sepatu dari pak guru. Sesampainya di
rumah. Dia mencuci bersih, mengelap sepatu itu. Warna kusam sepatu itu luntur,
muncul goresan, sayatan benang yang putus dan
lubang sepatu di sisi bawahnya.
“Alangkah
kasihannya pak guru itu, sepatu macam ini dia pakai sekolah.”
Si penulis
meletakan sepasang sepatu di meja kerjanya. Berharap inspirasi tabir itu akan segera
terjawab. Keberadaan sepatu itu bisa membawa keberuntungan untuk garapan novel
terbarunya.
Waktu berlalu
cepat, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Genap sembilan bulan sepuluh
hari sepatu itu ada di rumah si penulis, namun selama waktu itu pun si penulis
belum menemukan jawaban mimpinya. Setiap malam dia masih diburu mimpi yang sama
tentang sepatu. Persediaan depositonya semakin menipis, pasokan logistik
kosong. Royalti bukunya dibayarkan untuk membeli sepatu pak guru. Keadaan
semakin parah menginjak bulan ke lima belas, penulis tidak mempunyai uang untuk
membeli kebutuhan pokok.
Si penulis
membuka laptop naskah novel terbarunya stagnan. Dia mengalami witer block
padahal sudah melakukan riset, wawancara, observasi untuk pendalaman materi
naskahnya. Si penulis berkali-kali ditelepon oleh penerbit, tenggang waktu
penggarapan naskah bertema korupsi itu sudah jatuh tempo masa pengerjaan.
“Dasar sepatu
sialan!”
Si penulis
melempar sepatu itu ke tong sampah.
Xxx
Keesokan
paginya, dengan uang hasil menjual jam tangan mahalnya si penulis berniat
mengembalikan sepatu itu ke pak guru. Dia berpikir sepatu itu keramat, dengan
dikembalikan sepatu itu maka kesialannya akan hilang. Sesampainya di sana, si
penulis tidak bertemu dengan pak guru. Istrinya mengatakan pak guru sudah
mengajar di sekolah. Si penulis berniat memberikan langsung sepatu itu, tapi
hati kecilnya mengatakan lain. Si penulis meminta alamat sekolah pak guru, dia
ingin mengembalikan langsung sepatu itu sekaligus meminta ganti rugi tanggung
jawab royaltinya. Sepatu yang dibeli dengan harga mahal tidak bisa menjawab
tabir mimpinya. Selama lima belas bulan dia hampir mati kelaparan.
Demi menuju
tempat itu si penulis harus naik angkot, berjalan kaki tiga kilometer menyusuri
hutan yang sepi, menyeberangi sungai. Di tepi sungai, sudah banyak orang akan
menyeberang ke pulau. Dia paksakan dirinya tetap bersabar melewati medan sulit
itu. Dia menyeberang bersama warga lainnya. Penumpang yang banyak membuat
perahu oleng hampir tenggelam. Setiap kali dayung digerakkan, diiringi dengan
teriakan penumpang lain. Konon, di sungai itu ada beberapa buaya penunggu.
Sepanjang perjalanan dia mengutuki sepatu itu, tapi tak ada guna. Dia justru
duduk berkomat-kamit agar perahu segera menepi, selamat dari maut.
Dua jam
perjalanan sampailah perahu ke tepian. Si penulis menanyakan perihal guru itu.
“Tuan guru
biasa mengajar di hutan agak masuk ke dalam kalau ketemu pepohonan lahan hangus
terbakar di situ ada rumah bambu nah di situ tempatnya, kebetulan saya mau ke
sana, saya bawa buku-buku titipannya yang saya beli dari kota.”

Komentar
Posting Komentar