Pak Baron seorang juragan tanah yang
sangat kaya raya. Dia memiliki kolega orang kelas elit dari orang partai,
pejabat pemerintah, pengusaha bahkan kelas elit level preman pasar. Semua orang
segan kepadanya, dengan lingkungan koleganya itu dia mudah sekali menembus
birokrasi sulit. Proyek-proyek besarnya selalu gol seperti jalan tol. Suatu
ketika anak pak baron, yang bernama Ilham lulus dari sekolah menengah atas. Dia
ingin menyekolahkan anaknya di sekolah kedinasan. Ilham mempunyai riwayat
jelek, pernah masuk rehabilitasi kepolisian karena kasus perkelahian remaja dan
geng motor. Pagi itu Ilham mendaftar ke salah satu sekolah kedinasan di
Jakarta.
"Alur pendaftaran yang pertama
seleksi administrasi, silakan mengisi formulir pendaftaran dulu dan isian
daftar riwayat hidup setelahnya nanti mengikuti seleksi akademik, lalu seleksi
wawancara," kata panitia pendaftaran.
Ilham melengkapi semua berkas pendaftaran
dengan lengkap. Esok harinya hari pengumuman seleksi administrasi. Ilham dengan
tenang membuka website pengumuman.
"Ilham Wibowo dinyatakan tidak lulus
seleksi administrasi."
Ilham kesal, dia memberi tahu Pak Baron.
Mendengar kabar itu Pak Baron menggebrak meja.
"Besok kita datang ke sana kasih
pelajaran."
Pak Baron sibuk menelpon kolega orang
pentingnya dari pejabat kampus, sampai jenderal kepolisian.
Keesokan harinya, Pak Baron dan Ilham
datang ke kampus sekolah kedinasan di sana mereka bertemu dengan pimpinan
kampus.
"Saya sudah berbicara dengan
Jenderal D, saya berterima kasih Bapak Rektor A mau mempertimbangkan keputusan
kampus."
"Iya Pak Baron, kami sudah rapat dan
mempertimbangkan kelulusan Ilham, soal hasilnya kami sudah sepakat."
Pak Baron dan Ilham tersenyum sumringah.
Sambil berjabat tangan Pak Baron memberikan amplop putih tebal. Pak Rektor A
pun, memberikan amplop cokelat kepada Pak Baron.
Keduanya pulang masuk ke dalam mobil.
Ilham membuka amplop cokelat itu.
"Bapak!!!!"
Pak Baron merebut lembaran isi amplop
cokelat.
"Berkas Ilham kami kembalikan.
Sekolah kami mencetak pemimpin bangsa di masa depan. Sangat disayangkan jika
calon pemimpin bangsa justru membeli integritas kami dengan uang." Membaca
tulisan itu Pak Baron merobek kertas.
Amplop putih tebal itu sudah tergeletak
di dasbor mobil. Isinya utuh.
Cilacap, 23 Agustus 2023

Komentar
Posting Komentar