Amplop Cokelat (Fiksi Mini SIP Publishing)

 

Pak Baron seorang juragan tanah yang sangat kaya raya. Dia memiliki kolega orang kelas elit dari orang partai, pejabat pemerintah, pengusaha bahkan kelas elit level preman pasar. Semua orang segan kepadanya, dengan lingkungan koleganya itu dia mudah sekali menembus birokrasi sulit. Proyek-proyek besarnya selalu gol seperti jalan tol. Suatu ketika anak pak baron, yang bernama Ilham lulus dari sekolah menengah atas. Dia ingin menyekolahkan anaknya di sekolah kedinasan. Ilham mempunyai riwayat jelek, pernah masuk rehabilitasi kepolisian karena kasus perkelahian remaja dan geng motor. Pagi itu Ilham mendaftar ke salah satu sekolah kedinasan di Jakarta.





"Alur pendaftaran yang pertama seleksi administrasi, silakan mengisi formulir pendaftaran dulu dan isian daftar riwayat hidup setelahnya nanti mengikuti seleksi akademik, lalu seleksi wawancara," kata panitia pendaftaran.

Ilham melengkapi semua berkas pendaftaran dengan lengkap. Esok harinya hari pengumuman seleksi administrasi. Ilham dengan tenang membuka website pengumuman.

"Ilham Wibowo dinyatakan tidak lulus seleksi administrasi."

Ilham kesal, dia memberi tahu Pak Baron. Mendengar kabar itu Pak Baron menggebrak meja.

"Besok kita datang ke sana kasih pelajaran."

Pak Baron sibuk menelpon kolega orang pentingnya dari pejabat kampus, sampai jenderal kepolisian.

Keesokan harinya, Pak Baron dan Ilham datang ke kampus sekolah kedinasan di sana mereka bertemu dengan pimpinan kampus.

"Saya sudah berbicara dengan Jenderal D, saya berterima kasih Bapak Rektor A mau mempertimbangkan keputusan kampus."

"Iya Pak Baron, kami sudah rapat dan mempertimbangkan kelulusan Ilham, soal hasilnya kami sudah sepakat."

Pak Baron dan Ilham tersenyum sumringah. Sambil berjabat tangan Pak Baron memberikan amplop putih tebal. Pak Rektor A pun, memberikan amplop cokelat kepada Pak Baron.

Keduanya pulang masuk ke dalam mobil. Ilham membuka amplop cokelat itu.

"Bapak!!!!"

Pak Baron merebut lembaran isi amplop cokelat.

"Berkas Ilham kami kembalikan. Sekolah kami mencetak pemimpin bangsa di masa depan. Sangat disayangkan jika calon pemimpin bangsa justru membeli integritas kami dengan uang." Membaca tulisan itu Pak Baron merobek kertas.

Amplop putih tebal itu sudah tergeletak di dasbor mobil. Isinya utuh.

Cilacap, 23 Agustus 2023

Komentar